Pengertian, Bentuk, & Penyebab Rekonsiliasi Bank

Apa yang dimaksud dengan Rekonsiliasi Bank?? Bagaimana bentuknya?? dan lagi Kenapa perusahaan harus membuat Rekonsiliasi Bank??? Simak Penjelasan Berikut ini

Nahh… Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mempelajari tentang Pengertian Kas & Setara Kas dan Cara Pengendaliannya. Kali ini, kita akan mempelajari mengenai Rekonsiliasi Bank sampai ke akar-akarnya. 🙂

Untuk penjelasan lebih lengkapnya, langsung saja simak penjelasan berikut ini 🙂

Pengertian Rekonsiliasi Bank

Pengertian Rekonsiliasi Bank

Rekonsiliasi Bank merupakan analisis informasi dan jumlah yang menyebabkan saldo kas yang dilaporkan dalam rekening koran berbeda dari saldo kas dalam buku besar, dan bertujuan untuk menghasilkan saldo kas yang sesuai. Rekonsiliasi bank ini biasanya dibuat pada saat penyesuaian di akhir periode pembukuan.

Bagi nasabah perorangan, hampir dapat dipastikan bahwa biasanya mereka tidak akan menyelenggarakan catatan tersendiri atas saldo rekening bank-nya. Dalam hal ini, nasabah yang bersangkutan biasanya hanya akan mengandalkan pencatatan tunggal yang dilakukan oleh bank lewat buku tabungan. Sedangkan untuk nasabah perusahaan, mereka akan menyelenggarakan catatan sendiri untuk saldo rekening bank mereka, sehingga akan memungkinkan pencatatan berganda atas seluruh transaksi perusahaan yang melalui bank, yang artinya bahwa transaksi akan dicatat baik oleh perusahaan dan juga sekaligus bank.

Untuk tujuan pengendalian internal, setelah perusahaan menerima laporan rekening Koran bulanan yang akan dikirim secara rutin oleh bank, maka perusahaan akan mengecek kebenaran atau kecocokan saldo rekeningnya, yaitu saldo menurut catatan perusahaan (depositor’s record / balance per books) dengan saldo menurut catatan bank (bank statement / balance per bank). Dalam hal ini, sangat memungkinkan terdapat perbedaaan saldo (saldo akhir akun kas) diantara kedua catatan tersebut. Oleh karena itu, Rekonsiliasi dua kolom biasanya dilakukan untuk menetapkan atau mendapatkan saldo akhir kas yang benar atau yang sesungguhnya (corrected balance).

Untuk kepentingan pemeriksaan akuntansi (financial auditing) atas saldo kas, biasanya rekonsiliasi bank yang digunakan adalah rekonsiliasi empar kolom, sebagai bukti atas saldo akhir kas dalam periode berjalan (proof of cash). Empat kolom yang dimaksud adalah merinci masing-masing dari saldo akhir kas baik saldo menurut catatan perusahaan maupun catatan bank, dengan cara menambahkan jumlah total setoran atau pemasukan kas selama periode berjalan ke masing-masing dari saldo awal kas bersangkutan, serta mengurangkan masing-masing saldo awal kas yang bersangkutan dengan total pengeluaran atau penarikan kas selama periode berjalan.

Untuk rekonsiliasi dua kolom, tampilan laporannya atau penyajiannya akan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama memuat mengenai rincian koreksi atas saldo akhir kas menurut catatan bank, sedangkan bagian yang lainnya akan memuat rincian koreksi atas saldo akhir kas menurut catatan perusahaan. Proses rekonsiliasi bank ini akan berakhir apabila masing-masing saldo akhir kas dari kedua bagian telah sama, yaitu sesuai dengan saldo yang sebenarnya (corrected balance). Jadi, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari rekonsiliasi bank adalah untuk mencocokkan besarnya saldo akhir kas antara menurut catatan perusahaan dengan rekening Koran yang diterbitkan oleh bank.

Baca Juga:   Asumsi dan Prinsip Dasar Akuntansi Lengkap dengan Artinya

Bentuk-Bentuk Rekonsiliasi Bank

Bentuk Staffel (Report Form)

Bentuk staffel ini dapat disusun dengan bertingkat. Bagian atas untuk mencatat rekonsiliasi saldo kas berdasarkan catatan perusahaan, sedangkan bagian bawah untuk mencatat rekonsiliasi saldo kas berdasarkan rekening Koran bank atau sebaliknya.

Berikut adalah contoh bentuk staffel rekonsiliasi bank:

Rekonsiliasi Bank Bentuk Staffel

Bentuk Skontro (Account Form)

Bentuk skontro ini bisa disusun secara horizontal dengan cara sebelah-menyebelah. Bagian sebelah kiri untuk rekonsiliasi saldo kas catatan perusahaan, sedangkan bagian sebelah kanan untuk rekonsiliasi saldo kas rekening Koran bank atau sebaliknya.

Berikut ini adalah contoh bentuk skontro dalam rekonsiliasi bank:

Rekonsiliasi Bank Bentuk Skontro

Bentuk 4 Kolom

Rekonsiliasi bank berbentuk 4 kolom adalah suatu bentuk penyusunan rekonsiliasi bank yang terdiri dari 4 kolom untuk nominal mutasi.

Berikut ini adalah contoh rekonsiliasi bank berbentuk 4 kolom:

Rekonsiliasi Bank Bentuk 4 Kolom

Bentuk 8 Kolom

Rekonsiliasi bank berbentuk 8 kolom adalah suatu bentuk penyajian rekonsiliasi bank dengan kolom yang berjumlah 8 untuk nominal mutasi.

Berikut ini adalah contoh rekonsiliasi bank berbentuk 8 kolom:

Rekonsiliasi Bank Bentuk 8 Kolom

Penyebab Timbulnya Perbedaan Saldo Akhir Kas

Penyebab Rekonsiliasi Bank

Berikut ini adalah beberapa penyebab timbulnya perbedaan saldo akhir kas antara catatan menurut perusahaan dengan rekening Koran yang diterbitkan oleh bank :

Undeposited Fund (Dana belum disetor)

Undeposited Fund adalah sejumlah dana yang masih terdapat di kas perusahaan, tetapi belum disetorkan ke bank. Akun ini biasanya muncul jika perusahaan menggunakan kebijakan setor dana ke bank secara mingguan atau beberapa hari sekali, sehingga jika terdapat penerimaan dana akan disimpan dulu di perusahaan sampai waktunya setor ke bank. Dana belum disetor ini sifatnya akan menambah besarnya saldo kas menurut rekening Koran atau catatan bank.

Deposits in Transit (Setoran dalam Perjalanan)

Deposits in Transit adalah keadaan dimana perusahaan telah menyuruh orang yang memiliki kuasa untuk menyetorkan uang ke bank, tetapi belum masuk dalam catatan rekening Koran bank. Setoran dalam perjalanan ini sifatnya akan menambah besarnya saldo kas menurut rekening Koran atau catatan bank.

Outstanding Check (Cek yang masih beredar)

Pihak perusahaan di dalam pembukuannya sudah mengurangi besarnya saldo kas sebagai pembayarn hutang kepada pemasok dengan menggunakan cek, namun sampai dengan akhir bulan pemasok tersebut belum juga mencairkan cek tersebut ke bank yang bersangkutan sehingga saldo kas menurut rekening Koran di bank belum mencerminkan pembayaran tersebut atau belum di debit oleh bank yang bersangkutan.

Untuk tujuan rekonsiliasi bank, cek yang masih beredar ini sifatnya akan mengurangi besarnya saldo kas menurut catatan bank atau rekening Koran.

Not Sufficient Fund Check (Cek Kosong)

Cek kosong adalah cek yang tidak ada dananya, yang terjadi ketika perusahaan menerima cek pembayaran dari pelanggan, dalam pembukuannya perusahaan akan langsung menambahkan penerimaan ini ke dalam saldo kas dengan cara mendebit akun kas dan mengkredit akun piutang usaha atas nama pelanggan yang bersangkutan, namun ternyata setelah cek tersebut disetorkan ke bank yang bersangkutan cek tersebut tidak bisa dicairkan atau ditolak oleh bank karena tidak cukup dananya.

Baca Juga:   Pengertian, Sistem, & Jurnal Kas Kecil

Untuk tujuan rekonsiliasi bank, cek yang ditolak oleh bank karena tidak cukup dananya ini bersifat akan mengurangi kembali besarnya saldo kas menurut catatan perusahaan. Dalam pembukuan perusahaan, cek yang ditolak bank ini akan dibebankan kembali kepada pelanggan yang bersangkutan dengan cara memunculkan kembali akun piutang usaha dan mengkredit akun kas.

Notes Plus Interest Collected by Bank (Penagihan piutang wesel beserta bunganya lewat bank)

Penagihan piutang wesel beserta bunganya dapat dilakukan lewat bank dengan membayar biaya inkaso sebagai biaya atas penagihan piutang wesel tersebut. Apabila penagihan piutang wesel dilakukan lewat bank, maka perusahaan baru akan mengetahui hasil penerimaan penagihan ini beserta bunga dan biaya inkaso pada awal bulan berikutnya, yaitu pada saat perusahaan menerima rekening Koran atas bulan yang telah lewat, yaitu bulan dimana piutang wesel tersebut ditagih oleh bank. Hal ini berarti bahwa dalam bulan yang bersangkutan dimana piutang wesel tersebut ditagih, telah terjadi perbedaan antara saldo kas menurut catatan perusahaan dengan catatan bank. Perusahaan dalam pembukuannya belum mencatat hasil penagihan piutang wesel tersebut, karena baru mengetahuinya di bulan berikutnya.

Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo kas dimana piutang wesel tersebut ditagih, maka perusahaan dalam pembukuannya akan menambah saldo kas menurut catatan perusahaan agar sama dengan catatan bank melalui jurnal penyesuaian. Dalam hal ini, pihak bank lah yang pertama kali mengetahui terjadinya transaksi tersebut dan mengkredit penerimaan piutang wesel dengan bunganya serta mendebit biaya inkaso ke dalam rekening perusahaan, sehingga untuk mencocokkan saldonya perusahaan perlu mengoreksi saldo kas dalam catatannya. Caranya adalah dengan mendebit akun kas sebesar nilai wesel tagih ditambah bunga dan dikurangi biaya inkaso serta mendebit biaya inkaso, dan mengkredit akun wesel tagih pelanggan yang bersangkutan dan akun pendapatan bunga atas wesel tagih tersebut.

Interest Income (Bunga Bank atau Pendapatan Jasa Giro)

Perusahaan biasanya baru mengetahui hasil pendapatan jasa giro atas saldo rekening gironya yang telah mengendap selama bulan berjalan pada awal bulan berikutnya, yaitu pada saat perusahaan menerima rekening Koran atas bulan yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa dalam pembukuannya, perusahaan dalam bulan yang bersangkutan dimana jasa giro tersebut dihasilkan belum mencatatnya, karena baru mengetahui jumlahnya pada bulan berikutnya, sehingga telah terjadi perbedaan saldo kas antara menurut catatan bank dengan catatan perusahaan.

Baca Juga:   Pengertian, Jenis, Manfaat, dan Contoh 5 Jurnal Khusus Terlengkap Beserta Penjelasannya

Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo kas dimana jasa giro dihasilkan, maka dalam pembukuannya perusahaan akan menambah saldo kas menurut catatan perusahaan agar saldonya sama dengan catatan bank melalui jurnal penyesuaian. Jadi dalam hal ini, pihak banklah yang pertama kali mengetahui transaksi tersebut dan mengkreditnya ke dalam rekening perusahaan, sehingga untuk kecocokan saldo maka pihak perusahaan harus mengoreksi saldo kas dalam catatannya. Caranya adalah dengan mendebit akun kas dan mengkredit akun pendapatan jasa giro sebesar jasa giro yang diperoleh.

Bank Service Charge (Biaya Administrasi Bank)

Biaya administrasi bank ini meliputi biaya administrasi, biaya kliring, biaya cetak buku cek, dan biaya lainnya yang dibebankan ke rekening nasabah sehubungan dengan pemanfaatan fasilitas atau jasa yang diberikan bank.

Perusahaan biasanya baru akan mengetahui besarnya biaya administrasi bank ini pada awal bulan berikutnya, yaitu saat perusahaan menerima rekening Koran atas bulan yang bersangkutan, yaitu bulan dimana biaya administrasi bank tersebut dibebankan. Hal ini berarti bahwa dalam bulan dimana biaya administrasi bank tersebut dibebankan, telah terjadi perbedaan saldo kas antara menurut catatan perusahaan dengan catatan bank. Dalam pembukuannya, perusahaan belum mencatat besarnya biaya administrasi bank tersebut, karena baru mengetahui jumlahnya di bulan berikutnya saat menerima rekening Koran bank.

Untuk tujuan rekonsiliasi atas saldo kas dimana biaya administrasi bank ini akan dibebankan, maka perusahaan dalam pembukuannya akan mengurangi saldo kas menurut catatan perusahaan melalui jurnal penyesuaian agar saldonya sama dengan catatan bank. Jadi dalam hal ini, pihak bank lah yang pertama kali mengetahui terlebih dahulu transaksi tersebut, dan mendebit jumlah biaya administrasi bank tersebut ke dalam rekening perusahaan, sehingga untuk kecocokan saldo maka pihak perusahaan lah yang dalam pembukuannya harus mengoreksi saldo kas. Caranya adalah dengan mendebit akun beban administrasi bank dan mengkredit akun kas sebesar biaya administrasi bank yang dibebankan.

Error in Recording (Kesalahan Pencatatan)

Kesalahan dalam pencatatan bisa saja terjadi karena berbagai hal baik kesalahan yang dilakukan oleh perusahaan maupun bank. Perusahaan hanya akan membuat jurnal penyesuaian dalam pembukuannya, apabila kesalahan pencatatan dilakukan oleh pihak perusahaan sendiri.

Untuk tujuan rekonsiliasi bank, jika terdapat jumlah tertentu telah salah dicatat oleh perusahaan, maka selisih jumlah kesalahan tersebut harus ditambahkan atau dikurangkan dari saldo kas menurut catatan perusahaan, disertai dengan pembuatan jurnal penyesuaiannya. Demikian juga jika terdapat jumlah tertentu yang salah dicatat oleh bank, maka selisihnya harus ditambahkan atau dikurangkan dari saldo kas menurut catatan bank, tanpa perlu membuat jurnal penyesuaian dalam pembukuan perusahaan.

Analisis Rekonsiliasi Bank

Analisis Rekonsiliasi Bank

Yang Menambah Saldo Kas Menurut Catatan Perusahaan

  • Penagihan piutang wesel
  • Pendapatan Bunga wesel
  • Pendapatan jasa giro atau pendapatan bunga (Interest Income)
  • Kesalahan pencatatan penerimaan terlalu kecil
  • Kesalahan pencatatan pengeluaran terlalu besar

Yang Mengurangi Saldo Kas Menurut Catatan Perusahaan

  • Biaya administrasi bank (Bank Service Charge)
  • Biaya Inkaso
  • Cek ditolak bank/Cek kosong (Not Sufficient Fund Check)
  • Kesalahan pencatatan penerimaan terlalu besar
  • Kesalahan pencatatan pengeluaran terlalu kecil

Yang Menambah Saldo Kas Menurut Rekening Koran Bank

  • Dana belum disetor (Undeposited Fund)
  • Setoran dalam perjalanan (Deposit in Transit)
  • Kesalahan pencatatan penerimaan terlalu kecil
  • Kesalahan pencatatan pengeluaran terlalu besar

Yang Mengurangi Saldo Kas Menurut Rekening Koran Bank

  • Cek yang beredar (Outstanding Check)
  • Kesalahan pencatatan penerimaan terlalu besar
  • Kesalahan pencatatan pengeluaran terlalu kecil

Nahh… Itu dia pembahasan mengenai Rekonsiliasi Bank. Jika terdapat kesulitan dalam memahami materi yang dibahas, silahkan klik link berikut ini Tanya Jawab atau bisa langsung ditanyakan dengan mengunjungi Facebook atau Instagram kami. Semoga Bermanfaat 🙂

Default image
Sapta Jaya Pradana
Penulis dan Developer Blog Seven Accounting
Leave a Reply