Pengertian, Jenis, & Jurnal Piutang Beserta Penjelasannya

Piutang
Bagikan Artikel Ini

Apa sih yang dimaksud dengan Piutang?? Apa saja jenis-jenis dari piutang ini? Dan bagaimana cara pencatatannya dalam jurnal?? Berikut Penjelasannya!!

Nahh… Sebelumnya kita telah membahas mengenai Contoh Soal Kas Kecil Beserta Pembahasannya. Kali ini, kita akan membahas tentang Kas Kecil dan segalan hal yang menyertainya. 🙂

Untuk penjelasan lebih lengkapnya silahkan untuk membaca dibawah ini 🙂

Pengertian Piutang

Pengertian Piutang

Piutang adalah sejumlah tagihan yang akan diterima oleh perusahaan yang pada umumnya dalam bentuk kas dari pihak lain, baik sebagai akibat dari penyerahan barang dan/atau jasa secara kredit untuk piutang dari pelanggan yang terdiri dari piutang usaha dan memungkinkan timbulnya piutang wesel juga, memberikan pinjaman untuk piutang karyawan, piutang debitur yang biasanya secara langsung dalam bentuk wesel, dan piutang bunga, maupun sebagai akibat kelebihan pembayaran kas kepada pihak lain untuk piutang pajak.

Sebagian besar piutang timbul dari penyerahan barang dan/atau jasa kepada pihak lain secara kredit. Tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa pada umumnya pelanggan akan menjadi lebih tertarik untuk membeli sebuah produk yang ditawarkan secara kredit oleh perusahaan penjual, dan hal ini juga dapat menjadi salah satu trik untuk meningkatkan besarnya omset penjualan yang akan tampak pada laporan laba rugi bagi perusahaan. Piutang yang timbul dari kegiatan penjualan atau penyerahan barang dan/atau jasa secara kredit ini diklasifikan sebagai piutang usaha atau piutang dagang, yang kemudian tidak tertutup kemungkinan dapat diganti menjadi piutang wesel.

Jenis-Jenis Piutang

Dalam prakteknya, piutang secara umum dapat diklasifikasikan menjadi sebagai berikut ini:

1 – Piutang Usaha (Account Receivable)

Piutang Usaha

Piutang usaha adalah jumlah yang akan ditagih dari pelanggan oleh perusahaan sebagai akibat dari penjualan barang atau jasa secara kredit. Piutang usaha memiliki saldo normal di sebelah debit sesuai dengan saldo normal untuk jenis akun aset. Piutang usaha biasanya diperkirakan akan dapat ditagih dalam jangka waktu yang relatif pendek, yaitu biasanya dalam jangka waktu 30 sampai 60 hari. Setelah piutang usaha ditagih, secara pembukuan, maka piutang usaha akan berkurang di sebelah kredit. Piutang usaha ini diklasifikasikan sebagai aset lancar dalam neraca.

2 – Piutang Wesel (Notes Receivable)

Piutang Wesel

Piutang wesel adalah tagihan perusahaan yang didukung dengan instrument formal sebagai bukti tagihan yang disebut sebagai surat wesel kepada pembuat wesel. Pembuat wesel disini adalah pihak yang telah berhutang kepada perusahaan, baik melalui pembelian barang atau jasa secara kredit maupun melalui peminjaman sejumlah kas. Pihak yang berutang melakukan perjanjian kepada perusahaan selaku pihak yang diutangkan untuk membayar sejumlah uang tertentu beserta bunganya dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati.

Baca Juga:   Pengertian, Bentuk, & Penyebab Rekonsiliasi Bank

Janji pembayaran tersebut ditulis secara formal dalam sebuah wesel atau promes. Piutang wesel biasanya memiliki jangka waktu pelunasan yang lebih panjang daripada piutang usaha, yaitu sekitar 60-90 hari atau bahkan lebih panjang.

Bagi pihak yang berutang atau berjanji untuk membayar dalam hal ini adalah si pembuat wesel, instrument kreditnya dinamakan wesel bayar, yang akan dicatat sebagai utang wesel. Sedangkan bagi pihak yang dijanjikan untuk menerima pembayaran, instrumentnya dinamakan dengan wesel tagih, yang akan dicatat sebagai akun piutang wesel.

Piutang wesel diklasifikasikan dalam neraca sebagai aset lancar atau aset tidak lancar. Piutang wesel yang timbul sebagai akibat dari penjualan barang dan/atau jasa secara kredit akan dilaporkan dalam neraca sebagai aset lancar, sedangkan piutang wesel yang berasal dari transaksi pemberian pinjaman sejumlah kas kepada debitur akan dilaporkan dalam neraca sebagai aset lancar maupun aset tidak lancar, tergantung dengan lamanya jangka waktu pinjaman tersebut. Piutang wesel yang bersifat lancar, yang berasal dari penjualan barang dan/atau jasa secara kredit biasanya merupakan pengganti dari piutang usaha yang belum diterima pembayarannya hingga jangka waktu kredit berakhir.

3 – Piutang Lain-lain (Other Receivable)

Piutang Lain-Lain

Piutang lain-lain umumnya diklasifikasikan dan dilaporkan secara terpisah dalam neraca. Contohnya adalah piutang bunga, piutang dividen sebagai hasil dari investasi, piutang pajak berupa restitusi atau pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak kepada pemerintah, dan tagihan perusahaan kepada karyawan.

Jika piutang dapat ditagih dalam jangka waktu satu tahun atau sepanjang siklus normal operasi perusahaan, yang mana yang lebih lama, maka piutang lain-lain ini akan diklasifikasikan sebagai aset lancar. Siklus normal operasi perusahaan adalah lamanya waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan mulai dari pembelian barang dagangan dari pemasok, menjualnya kepada pelanggan secara kredit ataupun secara tunai hingga diterimanya penagihan piutang usaha atau piutang dagang dalam hal penjualan secara kredit. Piutang lain-lain memiliki saldo normal di sebelah debit dan akan berkurang di sebelah kredit.

Di samping klasifikasi umum seperti di atas, piutang juga dapat dibagi menjadi: piutang dagang dan piutang non dagang atau piutang lancar atau piutang tidak lancar.

Piutang dagang (trade receivable) adalah piutang yang dihasilkan dari kegiatan normal operasi perusahaan, yaitu melalui penjualan barang dagang secara kredit kepada pelanggan. Piutang dagang yang dibuktikan dengan janji tertulis secara formal oleh pelanggan untuk membayar sejumlah uang pada jangka waktu tertentu disebut sebagai piutang wesel (notes receivable). Dalam kebanyakan kasus, piutang dagang merupakan piutang kepada pelanggan yang tanpa adanya jaminan dari pelanggan untuk membayar atau disebut “open accounts”, yang sering dikenal sebagai piutang usaha (account receivable). Sedangkan piutang non dagang (nontrade receivable) meliputi seluruh jenis piutang lainnya, yaitu piutang bunga, piutang dividen, piutang pajak, tagihan kepada karyawan, dan tagihan kepada perusahaan asosiasi.

Baca Juga:   Asumsi dan Prinsip Dasar Akuntansi Lengkap dengan Artinya

Jika piutang diklasifikasikan sebagai piutang lancar dan tidak lancar, maka piutang lancar meliputi seluruh piutang perusahaan yang diperkirakan akan dapat diterima pembayarannya dalam jangka waktu satu tahun atau sepanjang siklus normal operasi perusahaan, yang mana yang lebih lama. Untuk tujuan klasifikasi, seluruh piutang dagang dianggap sebagai piutang lancar. Sedangkan untuk setiap unsur piutang non dagang memerlukan analisis lebih lanjut untuk menentukan apakah dapat diterima pembayarannya dalam jangka waktu satu tahun ataupun lebih. Piutang tidak lancar sendiri akan dilaporkan dalam neraca sebagai aset tidak lancar lainnya.

Pengendalian Internal atas Piutang Usaha

Pengendalian Internal atas Piutang Usaha

Hal yang harus diperhatikan dalam pengendalian internal atas piutang usaha adalah bagaimana pengamanan yang efisien dan efektif dilakukan atas piutang usaha, baik dari segi pengamanan atas perolehan fisik kas, pemisahan tugas, sampai tersedianya data catatan akuntansi yang akurat.

Setiap pengajuan kredit yang dilakukan oleh pelanggan haruslah dievaluasi terlebih dahulu kelayakan kreditnya. Bagian penjualan tidak boleh merangkap bagian kredit. Pemberian persetujuan kredit hanya boleh dilakukan oleh manajer kredit. Manajer penjualan tidaklah memiliki wewenang untuk menyetujui pengajuan kredit dari pelanggan. Apabilan bagian penjualan merangkap bagian kredit juga, maka dimungkinkan seluruh pengajuan kredit dari pelanggan akan langsung disetujui semua tanpa adanya evaluasi terlebih dahulu. Hal ini kemungkinan besar akan menimbulkan resiko dalam pelunasan kredit terutama terhadap pelanggan dengan peringkat kredit yang buruk.

Dalam penerapan pengendalian internal perusahaan tidak lepas dari biaya-biaya tambahan yang harus dikorbankan oleh perusahaan. Pada dasarnya perusahaan harus mempertimbangkan atau membandingkan antara besarnya biaya tambahan yang akan dikorbankan dalam rangka pemisahan tugas antara bagian penjualan dan bagian persetujuan kredit dengan manfaat yang akan diperoleh. Atas dasar pertimbangan tersebut, apabila perusahaan pada akhirnya memilih untuk merangkap kedua bagian tersebut, maka dasar perhitungan komisi penjualan haruslah berdasarkan tingkat kolektibilitas piutang, bukan pada omset penjualan. Artinya, komisi penjualan akan dihitung berdasarkan pada besarnya piutang usaha yang timbul dari penjualan kredit tersebut telah berhasil ditagih dalam bentuk kas.

Baca Juga:   20 Pengertian Akuntansi Menurut Para Ahli

Akan tetapi, dalam pemisahan tugas untuk tujuan pengendalian internal atas piutang usaha, maka seharusnya terdapat pemisahan fungsi antara bagian persetujuan kredit, bagian penjualan, bagian pencatatan, dan bagian penagihan piutang. Fungsi persetujuan kredit dan fungsi pembukuan memegang peran sebagai pengecek keabsahan penjualan. Karyawan yang menangani pencatatan piutang usaha tidak boleh ikut terlibat dalam aktivitas penagihan piutang usaha.

Bukti Transaksi atas Piutang Usaha

Bukti Transaksi atas Piutang Usaha
  • Bukti Penerimaan Kas, digunakan untuk mencatat penerimaan pelunasan piutang dari pelanggan
  • Faktur Penjualan, digunakan untuk mencatat timbulnya piutang usaha karena penjualan barang dagang atau jasa secara kredit
  • Kwitansi, digunakan untuk mencatat transaksi pelunasan piutang oleh pelanggan
  • Nota Kredit, digunakan untuk mencatat retur penjualan yang terjadi atas penjualan barang secara kredit
  • Bukti Memorial, digunakan untuk mencatat penghapusan piutang usaha, dan taksiran kerugian piutang pada akhir periode akuntansi.

Pengakuan Piutang Usaha

Pengakuan Piutang Usaha

Pada perusahaan dagang, akun piutang dagang pertama kali muncul pada saat penjualan barang dagang secara kredit, yang kemudian diikuti dengan transaksi retur penjualan jika ada, dan pada akhirnya penagihan piutang baik disertai dengan pemberian potongan penjualan maupun tidak.

Ayat jurnal yang digunakan oleh penjual untuk mencatat transaksi penjualan barang dagang secara kredit, yaitu:

Piutang DagangXXX
– PenjualanXXX

Ayat jurnal yang perlu dibuat oleh penjual apabila penjual tersebut menerima pengembalian barang dagang dari pelanggan karena rusak, cacat, atau tidak sesuai atas penjualan secara kredit, yaitu:

Retur PenjualanXXX
– Piutang DagangXXX

Ayat jurnal yang dibuat oleh penjual pada saat menerima pelunasan piutang dari seorang pelanggan yang berhasil memanfaatkan potongan penjualan adalah sebagai berikut:

Kas di BankXXX
Potongan PenjualanXXX
– Piutang DagangXXX

Dan ayat jurnal untuk penerimaan pelunasan piutang dari seorang pelanggan tanpa disertai dengan potongan penjualan adalah sebagai berikut:

Kas di BankXXX
– Piutang DagangXXX

Sedangkan untuk perusahaan jasa, akun piutang usaha akan timbul apabila perusahaan melakukan penjualan jasa secara kredit kepada pelanggan. Dalam hal ini, ayat jurnal yang perlu dibuat oleh pemberi jasa adalah sebagai berikut:

Piutang UsahaXXX
– Pendapatan JasaXXX

Nahh… Itu dia pembahasan mengenai Pengertian Piutang dan pencatatannya. Jika terdapat kesulitan dalam memahami materi yang dibahas, silahkan ajukan pertanyaan kalian dengan cara mengunjungi Facebook atau Instagram kami. Semoga Bermanfaat 🙂


Bagikan Artikel Ini

Penulis dan Developer Blog Seven Accounting

Tinggalkan Balasan