Pengertian Perusahaan Dagang Beserta Penjelasannya Lengkap

Apa itu sih Perusahaan Dagang?? Kenapa kok bisa disebut Perusahaan Dagang? Dan apakah Perusahaan Dagang itu sama dengan Perusahaan Jasa?

Nahh… Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas mengenai Pengertian dan Langkah Membuat Jurnal Penutup, Neraca Saldo Setelah Penutupan, & Jurnal Pembalik Lengkap. Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang Perusahaan dagang. Apa sihhh Perusahaan dagang ituu??? Perusahaan dagang adalah perusahaan yang membeli barang dan kemudian menjualnya kembali tanpa merubah apapun yang melekat pada barang tersebut hehehe… 🙂

Untuk yang lebih lengkap, silahkan baca dibawah ini 🙂

Pengertian Perusahaan Dagang

Berdasarkan jenis usahanya atau berdasarkan jenis produk yang dijual/yang dihasilkan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu perusahaan jasa, perusahaan dagang, dan perusahaan manufaktur. Perusahaan jasa dan perusahaan dagang sama-sama menjual produk, perbedaan dari keduanya adalah bahwa produk yang ditawarkan oleh perusahaan jasa berupa jasa/pelayanan sedangkan produk yang ditawarkan oleh perusahaan dagang berupa barang dagangan.

Perusahaan Dagang

Secara umum, perusahaan dagang adalah perusahaan yang membeli produk berupa barang dagangan pada perusahaan lain dan menjualnya tanpa merubah bentuk, sifat, maupun karakteristiknya. Aktivitas perusahaan dagang meliputi pembelian barang dagang dari supplier (pemasok) dan kemudian menjualnya kembali barang dagang yang telah dibeli tersebut kepada pelanggan/konsumen (Customer) dengan maksud untuk memperoleh keuntungan. Ketika barang dagangan terjual, nilai dari transaksi penjualan barang dagangan tersebut akan dilaporkan sebagai penjualan (sales) dan harga pokok atau harga beli dari barang dagangan yang terjual tersebut akan diakui sebagai beban yang biasa disebut dengan Beban Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold). Nilai penjualan setelah dikurangi dengan beban pokok penjualan akan menghasilkan nilai laba kotor (Gross Profit). Jumlah ini disebut dengan laba kotor karena perusahaan masih belum memperhitungkan beban operasional yang telah dikeluarkan dalam rangka memperoleh pendapatan dari penjualan tersebut.

Barang dagangan yang masih tersedia (masih belum terjual) sampai dengan akhir periode akuntansi biasa disebut dengan persediaan barang dagangan akhir (Ending Merchandise Inventory). Barang dagangan tersebut akan dilaporkan sebagai aset lancar dalam akun persediaan barang dagang (Merchandise Inventory) pada laporan posisi keuangan atau neraca. Akun persediaan barang dagang ini akan disajikan dengan urutan setelah akun kas dan akun piutang dagang (piutang usaha), yang berarti kas dan piutang dagang sifatnya lebih lancar dibandingkan dengan persediaan barang dagang.

Baca Juga:   5 Kode Etik yang Wajib Dimiliki oleh Akuntan Profesional

Karakteristik Perusahaan Dagang

Berdasarkan pada pengertian yang telah disebutkan diatas perusahaan dagang memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Produk yang dijual berupa barang dagangan.
  • Menjual produk yang dibeli tanpa mengubah karakteristiknya.
  • Terdapat akun persediaan barang dagang.
  • Penghasilan utama perusahaan berasal dari penjualan barang dagang.
  • Nilai laba kotornya diperoleh dari Penjualan dikurangi dengan beban pokok penjualan.

Akun Pada Perusahaan Dagang yang Tidak Terdapat Pada Perusahaan Jasa

Karena produk yang ditawarkan berbeda, akun yang terdapat pada perusahaan dagang pun juga memiliki perbedaan dengan perusahaan jasa. Berikut ini akun-akun yang terdapat pada perusahaan dagang tetapi tidak terdapat pada perusahaan jasa.

  • Persediaan Barang Dagang
  • Penjualan
  • Retur Penjualan
  • Potongan Penjualan
  • Beban Pokok Penjualan
  • Pembelian
  • Biaya Angkut Pembelian
  • Retur Pembelian
  • Potongan Pembelian

Sistem Pencatatan Persediaan Pada Perusahaan Dagang

Sistem Pencatatan Persediaan

Perusahaan dagang secara sistematis akan selalu menyelenggarakan pencatatan pada persediaan barang dagang untuk menentukan berapa besarnya barang dagangan yang tersedia untuk dijual dan juga berapa yang telah laku terjual. Terdapat dua metode akuntansi yang biasanya dipakai dalam mencatat persediaan barang dagangan, yaitu sistem atau metode pencatatan perpetual (Perpetual Inventory System) dan sistem atau metode pencatatan periodik/fisik (Periodic/Physical Inventory System).

Sistem Pencatatan Perpetual (Perpetual Inventory System)

Sistem pencatatan perpetual adalah sistem pencatatan persediaan dimana perusahaan menyelenggarakan pencatatan secara terperinci atas harga pokok barang dagangan yang dibeli ataupun dijual yang berlangsung secara terus menerus. Dalam sistem pencatatan ini, akan secara terus menerus menunjukkan berapa besarnya saldo persediaan barang dagangan yang terdapat di gudang untuk masing-masing jenis dari persediaan, karena setiap terjadi transaksi penjualan, pembelian, retur penjualan, maupun retur pembelian akan langsung dicatat pada akun persediaan barang dagang. Jadi saldo persediaan akhir dapat diketahui nilainya sewaktu-waktu.

Baca Juga:   Asumsi dan Prinsip Dasar Akuntansi Lengkap dengan Artinya

Dengan menggunakan sistem pencatatan perpetual ini, diyakini dapat menciptakan pengawasan yang lebih baik atas persediaan. Meskipun pencatatan  persediaan dilakukan secara terus menerus, perhitungan fisik persediaan atau yang biasa disebut stock opname tetap perlu dilakukan paling tidak sekali dalam setahun. Perhitungan fisik pada persediaan ini diperlukan untuk mengungkap transaksi persediaan yang tidak tertangkap oleh sistem elektronik, misalnya adanya persediaan yang dicuri, rusak, atau salah simpan. Dengan adanya perhitungan secara fisik dapat ditentukan nilai persediaan akhir yang sesuai dengan keadaan sebenarnya untuk disajikan dalam laporan keuangan, dan sekaligus juga dapat memeriksa ketelitian dari pencatatan perpetual.

Sistem pencatatan perpetual ini umumnya digunakan oleh perusahaan yang menjual barang yang harganya mahal dan memiliki jumlah unit persediaan yang relatif sedikit.

Kelebihan sistem pencatatan perpetual adalah sebagai berikut:

  • Nilai persediaan akhir dan beban pokok penjualan dapat diketahui setiap waktu.
  • Pengawasan terhadap persediaan barang dagang menjadi lebih baik.
  • Penyebab perbedaan nilai persediaan dapat langsung diketahui, karena setiap mutasi selalu dicatat.

Kekurangan jika menggunakan sistem pencatatan perpetual adalah sebagai berikut:

  • Membutuhkan banyak tenaga kerja dalam penerapannya.
  • Memakan biaya yang cukup besar.
  • Membutuhkan banyak waktu karena setiap mutasi selalu dicatat.
  • Pencatatan terbilang cukup rumit.

Sistem Pencatatan Periodik (Periodic Inventory System)

Sistem pencatatan periodic adalah sistem pencatatan persediaan dimana perusahaan menyelenggarakan pencatatan persediaan barang dagang dan penentuan beban pokok barang yang terjual hanya pada setiap akhir periode akuntansi. Pada setiap akhir periode akuntansi, perusahaan akan melakukan perhitungan fisik/stock opname pada persediaan yang tersisa dalam gudang untuk menentukan besarnya beban pokok persediaan yang ada pada akhir periode (nilai persediaan akhir).

Tahapan yang dilakukan untuk menentukan besarnya jumlah biaya perolehan barang yang terjual atau beban pokok penjualan pada sistem pencatatan periodik adalah sebagai berikut:

  • Tentukan nilai persediaan barang dagang yang terdapat pada awal periode (persediaan awal).
  • Tambahkan dengan nilai pembelian bersih sepanjang periode ke persediaan barang dagang awal.
  • Kurangkan dengan nilai persediaan barang dagang yang terdapat pada akhir periode setelah dilakukannya stock opname (persediaan akhir).
  • Hasil dari perhitungan inilah yang disebut dengan beban pokok penjualan.
Baca Juga:   Pengertian, Bentuk, & Penyebab Rekonsiliasi Bank

Secara umum, rumus dari beban pokok penjualan pada sistem pencatatan periodik adalah sebagai berikut:

Beban Pokok Penjualan = Persediaan awal + Pembelian bersih – Persediaan akhir

Atau

Beban Pokok Penjualan = Persediaan awal + (Pembelian + Biaya angkut pembelian – Potongan pembelian – Retur Pembelian) – Persediaan akhir

Dalam sistem pencatatan periodik ini, pembelian barang dagang akan dicatat dengan menggunakan akun pembelian bukan akun persediaan barang dagang seperti pada sistem perpetual. Karena dalam sistem periodik persediaan barang dagang hanya akan diperhitungkan pada akhir periode, sehingga pada setiap terjadinya transaksi pembelian, penjualan, retur penjualan, retur pembelian, dan lain-lain, tidak akan terjadi mutasi atau tidak akan dicatat pada akun persediaan barang dagang.

Sistem pencatatan periodik ini umumnya digunakan oleh perusahaan dagang yang menjual barang yang harganya relatif murah dan memiliki jumlah unit persediaan barang dagang yang banyak. Karena barang yang dijual relatif murah, pada perusahaan yang menggunakan sistem pencatatan ini biasanya tidak digunakan kas register dengan optimal scanning sebagaimana banyak digunakan oleh perusahaan yang menjual barang-barang dengan harga mahal.

Kelebihan penggunaan sistem pencatatan periodik ini adalah sebagai berikut:

  • Tidak memakan biaya yang besar dalam penerapannya.
  • Tidak membutuhkan banyak tenaga kerja.
  • Pencatatan lebih sederhana.

Kekurangan dalam penerapan sistem pencatatan periodic adalah sebagai berikut:

  • Nilai persediaan akhir dan beban pokok penjualan hanya dapat diketahui pada akhir periode akuntansi setelah dilakukan stock opname.
  • Kurangnya pengawasan terhadap barang dagang, karena persediaan barang dagang hanya diperhitungkan setiap akhir periode akuntansi.
  • Sulit untuk mengetahui penyebab perbedaan nilai persediaan berdasarkan stock opname dan pencatatan.

Nahh… Itu dia artikel dari kita mengenai Perusahaan Dagang. Bila ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut silahkan klik link berikut ini Tanya Jawab atau bisa langsung saja ke Facebook atau Instagram kami jika mungkin ada yang belum dipahami mengenai materi yang kami sampaikan. Semoga Bermanfaat 🙂

Default image
Sapta Jaya Pradana
Penulis dan Developer Blog Seven Accounting
Leave a Reply