Persediaan; Pengertian, Jenis, Syarat Pembayaran, & Syarat Penyerahan Barang

Persediaan
Bagikan Artikel Ini

Apa itu Persediaan? Apa saja jenis-jenis persediaan? Bagaimana penentuan dan perhitungannya? Dan apa saja syarat-syarat menjual & membeli persediaan?

Sebelumnya kita telah membahas materi Metode Pencatatan Piutang dengan Gross & Net Method. Kali ini kita akan membahas mengenai Persediaan; Pengertian, Jenis, Syarat Pembayaran, & Syarat Penyerahan Barang.

Artikel Akuntansi Keuangan Menengah lain bisa kalian akses disini.

Pengertian Persediaan

Persediaan adalah aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, sedang dalam proses produksi, dan/atau dalam perjalanan, atau masih dalam bentuk bahan atau perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.

Jenis-Jenis Persediaan

Jenis persediaan yang dimiliki oleh perusahaan tergantung pada bidang usaha dari perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan jasa tidak memiliki persediaan karena perusahaan jasa tidak memperdagangkan barang. Berbeda dengan perusahaan dagang dan manufaktur. Dalam perusahaan dagang dan manufaktur, persediaan merupakan aset perusahaan yang utama, baik dari segi fungsi maupun jumlah rupiahnya. Dalam perusahaan dagang dan manufaktur, persediaannya terkadang dapat mencakup lebih dari 50% dari aset lancarnya.

Bagaimana perusahaan mengelompokkan persediaannya tergantung pada apakah perusahaan tersebut merupakan perusahaan dagang atau perusahaan manufaktur. Dalam perusahaan dagang, perusahaan bisa memiliki berbagai macam barang. Contohnya, sebuah Supermarket menjual ratusan bahkan mungkin ribuan macam barang. Di bagian bahan makanan misalnya, persediaan terdiri atas makanan kalengan, daging dan ikan segar, sayuran, dan lain-lain. Persediaan barang semacam itu memiliki dua karakteristik umum, yaitu: (1) Barang-barang tersebut merupakan milik perusahaan, dan (2) Barang tersebut siap untuk dijual kepada konsumen (umumnya tanpa diolah atau diproses terlebih dahulu). Dengan demikian, perusahaan dagang hanya membutuhkan satu kelompok persediaan yang disebut Persediaan Barang Dagang yang di dalamnya telah mencakup berbagai macam persediaan.

Dalam perusahaan manufaktur, beberapa jenis persediaan belum siap untuk dijual. Oleh karena itu perusahaan manufaktur mengelompokkan persediaannya menjadi tiga golongan, yaitu Persediaan Bahan Baku, Persediaan Barang Dalam Proses, dan Persediaan Barang Jadi.

  • Persediaan Bahan Baku, adalah bahan dasar yang belum diproses dan akan digunakan dalam proses produksi barang jadi.
  • Persediaan Barang Dalam Proses, adalah bagian dari barang yang diproduksi dan telah mulai diproses tetapi belum selesai diproses, atau belum menjadi barang jadi.
  • Persediaan Barang Jadi, adalah hasil produksi yang telah selesai dan siap untuk dijual kepada konsumen.
Baca Juga:   Pengertian dan Pembuatan Jurnal Penyesuaian & Neraca Lajur Lengkap Beserta Caranya

Biaya pembelian persediaan meliputi harga pembelian, biaya masuk dan pajak lainnya (kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh perusahaan kepada kantor pajak), biaya pengangkutan, penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan dan jasa. Diskon dagang atau trade discount, rabat, dan pos lainnya yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian.

Jenis-Jenis Diskon

  • Trade Discount atau Rabat adalah potongan yang diberikan karena membeli barang dalam jumlah yang banyak, biasanya akan dinyatakan dalam persen. Harga yang diperhitungkan pada pembeli ialah harga menurut daftar dikurangi dengan rabat yang disebut sebagai harga kontrak.
  • Cash Discount adalah potongan tunai yang diberikan kepada pembeli apabila membayar utangnya dalam batas waktu yang telah ditentukan oleh penjual. Maksud diberikannya potongan tunai ini kepada pembeli adalah agar pembeli terdorong untuk membayar lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

Macam-macam Syarat Pembayaran

  • 2/10, n/30, artinya pembelian akan memperoleh potongan 2% apabila bisa membayar dalam jangka waktu 10 hari setelah tanggal faktur dan netto harus dibayar paling lambat 30 hari setelah tanggal faktur.
  • E.O.M (End of Month) artinya pembayaran paling lambat pada tanggal akhir bulan dari pembelian barang.
  • n/10 EOM, artinya pembayaran paling lambat 10 hari setelah akhir bulan pembelian barang.
  • 2/10, 1/15, n/60, aritnya pembeli akan memperoleh potongan sebesar 2% apabila dapat membayar dalam jangka waktu 10 hari setelah tanggal faktur dan hanya akan memperoleh potongan sebesar 1% jika membayar setelah 10 hari dari tanggal faktur tetapi tidak lebih dari 15 hari dan netto harus dibayar paling lambat 60 hari setelah tanggal faktur.

Penentuan Kuantitas Persediaan

Kuantitas persediaan perlu ditentukan pada setiap akhir periode, baik pada perusahaan yang menetapkan sistem persediaan fisik ataupun perpetual. Apabila perusahaan menggunakan sistem persediaan perpetual, perhitungan secara fisik terhadap persediaan dilakukan untuk mencapai dua tujuan, yaitu:

  • Mengecek keakuratan catatan persediaan perpetual yang diselenggarakan oleh perusahaan.
  • Menentukan jumlah persediaan yang hilang akibat penyusutan, pencurian oleh pembeli, atau penggelapan oleh karyawan perusahaan sendiri.
Baca Juga:   Pengertian Perusahaan Dagang Beserta Penjelasannya Lengkap

Perusahaan yang menerapkan sistem persediaan periodik atau fisik akan melakukan perhitungan fisik terhadap persediaan pada akhir periode dengan tujuan untuk menentukan jumlah barang yang ada dalam persediaan pada tanggal neraca, dan menentukan beban pokok penjualan.

Perhitungan Fisik Persediaan

Perhitungan fisik persediaan pada hakikatnya meliputi pekerjaan untuk menghitung, menimbang, dan mengukur setiap jenis barang yang ada dalam persediaan. Dalam sejumlah perusahaan tertentu, pekerjaan menghitung fisik persediaan merupakan pekerjaan yang berat dan juga rumit. Contohnya, pada perusahaan pengecer, terdapat berbagai jenis persediaan yang berbeda-beda. Perhitungan fisik persediaan akan dapat dilakukan dengan akurat jika selama masa penghitungan, perusahaan menghentikan sesaat kegiatan penjualan dan penerimaan barang. Oleh karena itu, perusahaan biasanya melakukan penghitungan persediaan pada saat perusahaan sedang tutup atau ketika kegiatan bisnis sedang tidak begitu sibuk.

Penentuan Kepemilikan Barang

1 – Barang Dalam Perjalanan

Masalah yang cukup rumit dalam penentuan kepemilikan barang adalah Barang Dalam Perjalanan. Perusahaan mungkin telah membeli barang yang sampai dengan akhir periode belum diterima, atau mungkin juga perusahaan telah menjual barang tetapi pada akhir periode barangnya belum dikirim ke pembeli. Untuk mendapatkan hasil perhitungan yang akurat, perusahaan harus menentukan kepemilikan barang-barang tersebut.

Barang dalam perjalanan harus dimasukkan dalam persediaan perusahaan apabila perusahaan secara sah telah menjadi pemilik dari barang tersebut. Keabsahan dari kepemilikan barang ditentukan oleh syarat penyerahan barang yang disepakati bersama. Syarat penyerahan barang tersebut dibagi menjadi 2, yaitu FOB Shipping Point dan FOB Destination Point.

FOB Shipping Point (Franko Gudang Penjual)

FOB Shipping Point adalah perpindahan kepemilikan atas barang dagang dari penjual ke pembeli pada saat pihak pengangkut menerima barang dari penjual. Artinya barang akan menjadi milik pembeli saat barang tersebut telah keluar dari gudang penjual (perpindahan kepemilikan barang terjadi di gudang penjual). Karena perpindahan kepemilikan barang terjadi di gudang penjual, maka pembeli harus membayar sendiri segala biaya yang terjadi untuk membawa barang tersebut ke gudang pembeli (ongkos kirim ditanggung oleh pembeli).

Baca Juga:   Metode Pencatatan Piutang dengan Gross & Net Method

FOB Destination Point (Franko Gudang Pembeli)

FOB Destination Point adalah perpindahan kepemilikan atas barang dagang dari penjual ke pembeli terjadi pada saat barang telah sampai di gudang pembeli. Artinya barang yang dijual kepada pembeli akan menjadi milik pembeli pada saat barang tersebut telah ada di gudang pembeli (perpindahan kepemilikan barang terjadi di gudang pembeli). Karena perpindahan kepemilikan barang terjadi di gudang pembeli, maka penjual harus menanggung segala biaya yang terjadi untuk membawa barang tersebut ke gudang pembeli (ongkos kirim ditanggung oleh penjual).

2 – Barang Konsinyasi

Barang-barang tertentu sering diperdagangkan secara konsinyasi, artinya penjual menerima titipan barang milik orang lain untuk dijual dengan menerima komisi dari hasil penjualan barangnya. Penjual bukan merupakan pemilik barang, dan oleh karenanya penjual tidak melaporkan barang tersebut sebagai persediaan. Barang-barang tersebut dinamakan dengan barang konsinyasi.

Perusahaan perdagangan sering kali menjual barang yang bukan dibelinya sendiri dari pemasok melainkan merupakan titipan dari pihak lain. Pihak yang menitipkan barang ini (pemilik barang) disebut dengan consignor sedangkan pihak yang menerima titipan barang (pihak yang menjualkan) disebut dengan consignee. Kepemilikan barang tetap berada pada pihak consignor sampai barang yang dititipkan terjual kepada pihak ketiga, dan atas jasanya pihak consignee akan memperoleh sejumlah komisi dari pihak consignor.

Saat ini berbagai jenis barang dijual secara konsinyasi, misalnya penjualan rekaman lagu dalam bentuk CD, barang elektronik, pakain jadi, dan lain-lain. Hal ini dilakukan selain untuk mempercepat penjualan barang, juga agar persediaan tidak menumpuk di tempat produsen.

Jadi, sudah tau kan mengenai Persediaan; Pengertian, Jenis, Syarat Pembayaran, & Syarat Penyerahan Barang, kalau ada yang ingin ditanyakan bisa menghubungi instagram atau facebook kami. Jangan lupa untuk share ke teman-teman kalian supaya ilmu ini bisa terbagi…

Stay Productive


Bagikan Artikel Ini

Penulis dan Developer Blog Seven Accounting

Tinggalkan Balasan