Bea Materai; Pengertian, Objek, Tarif, & Cara Pelunasannya Lengkap

Bea Materai
Bagikan Artikel Ini

Apa itu Bea Materai? Apa saja objek-objek Bea Materai? Berapa Tarifnya? Dan Bagaimana Cara Pelunasan Bea Materai? Berikut Penjelasannya…

Sebelumnya kita telah membahas materi Timbulnya & Berakhirnya Utang Pajak Serta Tarif Pajak. Kali ini kita akan membahas mengenai Timbulnya & Berakhirnya Utang Pajak Serta Tarif Pajak.

Artikel Perpajakan lain bisa kalian akses disini.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar di antara kita pasti pernah menjumpai dokumen penting ataupun surat berharga yang dibubuhi materai di atasnya. Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa benda tersebut bernama materai, tetapi mereka tidak memiliki pemahaman terkait bea materai itu sendiri.  Untuk sekadar macam objek bea materai beserta tarifnya saja, masih banyak pihak  yang belum mengetahuinya. Oleh karena itu, di sini penulis akan membahas beberapa hal yang dapat kalian ketahui terkait bea meterai.

Pengertian Bea Materai

Bea Materai dapat diartikan sebagai salah satu jenis pajak dengan objek berupa dokumen yang sifatnya perdata. Sedangkan untuk dokumen – dokumen yang sifatnya publik (KTP, KK, SIM, STNK, Akta Kelahiran, dan lain-lain) tidak dikenakan bea materai. Berdasarkan kategori pajak menurut lembaga pemungutannya, bea materai dikategorikan sebagai salah satu jenis pajak pusat. Artinya, pemungutan serta pengelolaan pajak dilakukan oleh pemerintah pusat, yaitu Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang berada di bawah naungan Kementerian Keuangan.

Hasil pelunasan bea materai nantinya akan masuk ke dalam kas pemerintah pusat, akan digunakan untuk menjalankan kegiatan pemerintahan serta untuk biaya pembangunan. Sementara itu, pihak yang bertugas untuk mencetak bea materai adalah Perum Peruri dan yang bertugas untuk mengedarkannya adalah PT Pos Indonesia. Mengenai wewenang penerbitan bea materai, tetap berada pada pemerintah pusat.

Objek Bea Materai

Di dalam Undang – Undang Nomor 13 Tahun 1985, secara tegas telah dijelaskan mengenai objek-objek apa saja yang dikenakan bea materai. Lantas, apa saja yang  termasuk dalam kategori objek bea materai? Berikut ini adalah penjelasan sederhana versi penulis terkait objek apa saja yang dikenakan bea materai:

ASurat perjanjian yang  sifatnya perdata, tujuan pembuatannya sebagai alat pembuktian di hadapan pengadilan.

Masih sering menjadi pertanyaan, apakah sebuah surat perjanjian akan menjadi kuat  di muka hukum tanpa adanya pelunasan bea materai? Banyak pihak yang masih kebingungan terkait hal tersebut. Kuat atau lemahnya surat perjanjian tidaklah ditentukan dengan telah dilunasinya bea materai oleh wajib pajak, melainkan yang menentukan yaitu jenis surat perjanjian itu sendiri. Tidak adanya materai dalam sebuah surat perjanjian bukan berarti surat tersebut tidak sah di hadapan hukum, melainkan hanya tidak memenuhi syarat sebagai alat pembuktian.

Baca Juga:   Timbulnya & Berakhirnya Utang Pajak Serta Tarif Pajak

BAkta-akta notaris beserta salinannya

 Salinan (foto copy ) dari akta yang dibuat notaris juga dikenakan bea materai. Tujuan dari hal ini untuk menjamin bahwa isi dari salinan akta tersebut serupa dengan aslinya.

C – Akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah beserta rangkapannya

Sama halnya dengan salinan akta notaris, rangkap – rangkap dari akta yang telah dibuat oleh PPAT juga ditetapkan sebagai objek bea materai. Tujuannya untuk menjamin keaslian isi dari akta-akta yang telah digandakan tersebut.

D – Surat yang isinya memuat nilai nominal uang lebih dari Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah), seperti halnya :

  • Surat yang menyebutkan telah terjadinya suatu penerimaan uang;
  • Surat  yang menyatakan terjadinya pembukuan uang atau penyimpanan uang pada rekening bank;
  • Surat yang isinya mengenai pemberitahuan saldo rekening di bank;
  • Surat yang menyatakan pengakuan terkait telah dilakukannya pelunasan ataupun perhitungan terhadap sebagian ataupun seluruh utang uang.

Terkait dokumen-dokumen yang menyatakan  jumlah uang dengan nilai nominal  mata uang asing, juga dikenakan bea materai. Untuk mengetahui apakah dokumen yang bersangkutan terutang bea materai atau tidak, terlebih dahulu kita harus mengkonversi nilai mata uang asing tersebut terhadap nilai rupiah yang telah ditetapkan oleh Kementerian Keuangan pada saat itu. Dokumen yang secara pasti memuat jumlah uang yaitu dokumen-dokumen perbankan.

E – Beberapa surat berharga seperti halnya wesel, promes, aksep, dan cek dengan nilai  nominal lebih dari Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah).

Surat-surat tersebut tak lain adalah contoh dari beberapa produk perbankan yang turut menjadi objek bea materai.

F – Efek dengan harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah).

Efek didefinisikan sebagai surat berharga jangka panjang yang diperjualbelikan di pasar modal. Surat-surat tersebut pada umumnya dikategorikan menjadi dua, yaitu surat yang bersifat utang (obligasi) serta surat yang menyatakan kepemilikan (saham)

Baca Juga:   Pajak; Fungsi, Teori yang Mendukung, & Jenis-Jenisnya Lengkap

G – Dokumen – dokumen yang hendak digunakan  sebagai alat pembuktian di hadapan pengadilan, di antaranya :

1 – Surat-surat biasa serta surat-surat kerumah-tanggaan.

Pada saat awal pembuatan, surat-surat tersebut tidak dikenakan bea materai.  Namun, akan menjadi terutang bea materai apabila pada suatu waktu dokumen yang bersangkutan hendak dijadikan sebagai alat pembuktian di hadapan  pengadilan. 

2 – Surat yang telah mengalami perubahan tujuan dari tujuan semula atau telah digunakan oleh pihak lain.

Surat-surat tersebut tidak ditetapkan terutang bea materai pada saat pembuatannya. Apabila pada suatu saat tujuan dari pembuatan surat tersebut telah mengalami perubahan, maka surat tersebut menjadi terutang bea materai dan harus dilakukan pemateraian kemudian.

Tarif Bea Materai

Tarif bea materai yang berlaku di Indonesia telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Berdasarkan pasal 2 Undang-undang No. 13 Tahun 1985, tarif bea materai pada awalnya ditetapkan sebesar Rp500 dan Rp1000. Kemudian, pada pasal 3 UU tersebut, dijelaskan bahwa besaranya tarif bea materai dan batas nominal yang dikenakan bea materai dapat diubah dengan adanya peraturan pemerintah. Hingga pada akhirnya dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2000 yang menyebabkan terjadinya perubahan pada tarif bea materai. Ketetapan tari bea materai yang termuat pada PP tersebut masih berlaku hingga saat ini, yaitu sebesar Rp3000 dan Rp6000.

Tarif bea materai sebesar Rp6000 dikenakan terhadap objek bea materai yang telah penulis jelaskan sebelumnya (lihat poin a–g pada penjelasan objek bea materai). Sedangkan untuk objek bea materai dengan tarif Rp3000 , berlaku pada :

• Surat yang memuat jumlah uang dengan nilai nominal yang lebih dari Rp250.000 sampai dengan Rp1000.000

• Cek beserta bilyet giro tanpa adanya batas ketentuan nilai nominal

• Efek yang nilai nominalnya sampai dengan Rp1000.000

• Sekumpulan efek yang tertera di dalam surat kolektif dengan batas  nilai nominal sampai dengan Rp1000.000

Perlu kita ketahui, UU bea materai yang berlaku di Indonesia sampai detik ini masih belum pernah mengalami perubahan. Itu artinya, telah 35 tahun sudah UU tersebut berlaku di Indonesia. Namun, beberapa waktu terakhir ini, pemerintah beserta anggota DPR telah menyusun pembahasan terkait RUU bea meterai dan sepakat menjadikan RUU tersebut sebagai RUU prioritas tahun 2020. Salah satu yang menjadi pokok bahasan RUU tersebut, yakni perubahan tarif bea materai, dari yang awalnya

Baca Juga:   Tata Cara Pemungutan Pajak di Indonesia Lengkap

Rp3000 dan Rp6000 menjadi tarif tunggal  Rp10000. Terdapat beberapa pertimbangan yang membuat terjadinya perubahan tarif tersebut, salah satu penyebabnya adalah tarif yang termuat pada Undang – Undang Nomor 13 Tahun 1985  dinilai sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Jadi, tinggal menunggu waktu saja kapan RUU tersebut akan diundangkan.

Cara Pelunasan Bea Materai

Cara pelunasan bea materai yang paling sering digunakan oleh masyarakat yaitu menggunakan materai tempel. Materai tempel harus direkatkan seluruh bagiannya di atas dokumen yang menjadi objek bea materai, letaknya di bagian yang akan dibubuhi tanda tangan. Tanda tangan dilakukan di atas kertas dokumen tersebut dengan sebagian tinta mengenai materai tempel.  Materai tempel hanya bisa digunakan satu kali.  Artinya, materai yang sudah digunakan pada suatu dokumen tidak boleh digunakan kembali untuk dokumen lainnya.

Contoh Soal Bea Materai

Nah, untuk menambah pemahaman kalian mengenai materi bea materai, di sini penulis akan memberikan contoh soal beserta pembahasannya.

Contoh Soal :

Cindercelli membeli sepasang sepatu kaca berlapis emas dengan harga Rp100.000.000. Dia membayar uang muka sebesar 50% dari total harga dan sisanya dicicil lima kali dengan besar cicilan 10% dari total harga di setiap cicilannya. Jika setiap pembayaran dilakukan menggunakan cek, tentukan total bea materai yang harus dibayarkan oleh cindercelli

Pembahasan

Pada soal tersebut, dapat kita ketahui terdapat enam kali transaksi pembayaran menggunakan cek. Tarif bea materai yang dikenakan terhadap cek sebesar Rp3000 tanpa batas ketentuan nilai nominal.

Jadi, total bea materai yang harus dilunasi oleh cindercelli sebesar Rp3000 x 6 = Rp18000

Jadi, sudah tahu kan mengenai Bea Materai; Pengertian, Objek, Tarif, & Cara Pelunasannya Lengkap. Apabila ada yang ditanyakan kalian bisa menghubungi instagram atau facebook kami. Jangan lupa untuk share ke teman-teman kalian supaya ilmu ini dapat terbagi dan lebih bermanfaat lagi.


Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan