2 Metode Penghapusan Piutang Usaha Lengkap

Metode Penghapusan Piutang
Bagikan Artikel Ini

Apa sih Penghapusan Piutang itu?? Apa saja metodenya? Dan kenapa sihh piutang usaha itu harus dihapus?? Simak Penjelasan dibawah ini!!!

Nahh… Sebelumnya kita telah membahas mengenai Pengertian, Jenis, & Jurnal Piutang Beserta Penjelasannya. Kali ini, kita akan membahas tentang Kas Kecil dan segalan hal yang menyertainya. 🙂

Untuk penjelasan lebih lengkapnya silahkan untuk membaca dibawah ini 🙂

Piutang Usaha yang Tidak Dapat Ditagih

Piutang usaha yang tidak dapat ditagih atau Piutang tak tertagih adalah piutang yang sudah tidak dapat diterima lagi pembayarannya dari pelanggan yang disebabkan karena pelanggan tersebut mengalami kebangkrutan, pailit, atau kondisi lain yang menyebabkan pelanggan tidak dapat membayar sejumlah piutang usaha pada tanggal jatuh temponya.

Setelah piutang usaha dicatat, nantinya akan dilaporkan di dalam neraca sebagai aset lancar. Piutang usaha yang dilaporkan dalam neraca ini harus benar-benar menunjukkan jumlah yang kemungkinan besar dapat ditagih saat tanggal jatuh tempo, setelah memperhitungkan besarnya kredit yang macet. Beban yang timbul karena tidak tertagihnya piutang usaha atau kredit macet akan dicatat dalam pembukuan sebagai beban operasional perusahaan, yang biasanya dicatat dengan menggunakan istilah akun: Beban Kerugian Piutang (Bad Debts Expense), atau Beban Piutang Ragu-ragu (Doubtful Account Expense), atau Beban Piutang yang Tidak Dapat Ditagih (Uncollectible Account Expense).

Pada umumnya, setiap calon pelanggan harus memenuhi persyaratan kredit terlebih dahulu sebelum transaksi secara kredit tersebut disetujui. Akan tetapi, pada kenyataannya beberapa piutang usaha justru menjadi tidak dapat ditagih akibat dari kondisi pelanggan setelah transaksi kredit disetujui. Kondisi ini dapat dimisalkan: adanya pelanggan yang tidak dapat membayar oleh karena menurunnya omset penjualan sebagai akibat dari lesunya perekonomian. Kebangkrutan yang dialami oleh pelanggan perusahaan merupakan indikasi kuat atas kemungkinan tidak tertagihnya piutang usaha.

Metode Penghapusan Piutang Usaha

Dalam melakukan penghapusan terhadap piutang usaha yang tidak dapat ditagih, terdapat 2 metode yang biasanya digunakan oleh perusahaan, yaitu metode penghapusan langsung dan metode cadangan.

Metode Penghapusan Langsung (Direct Write-off Method)

Metode penghapusan langsung adalah metode penghapusan dimana perusahaan akan mencatat penghapusan piutang pada saat piutang tersebut benar-benar sudah tidak dapat ditagih lagi. Metode ini biasanya digunakan oleh perusahaan yang memiliki skala kecil yang tidak dapat memperkirakan piutang yang tidak ditagih pada tahun berjalan. Metode ini biasa digunakan terutama oleh perusahaan yang memiliki bidang usaha seperti restoran, hotel, rumah sakit, kantor pengacara, kantor akuntan publik, dan took eceran dengan skala bisnis yang relatif kecil.

Faktor-faktor atau perihal yang membuat metode penghapusan langsung ini sering dipakai adalah:

  • Terdapatnya sebuah situasi yang dimana memang sangat tidak memungkinkan bagi perusahaan untuk melakukan estimasi terhadap besarnya piutang usaha yang tidak dapat ditagih lagi.
  • Khusus bagi perusahaan yang sebagian besar barang atau jasanya dijual secara tunai, sehingga jumlah beban atas piutang usaha yang tidak dapat ditagih lagi boleh dibilang sangat tidak material untuk diestimasikan.

Ketika metode penghapusan langsung digunakan, maka beban kerugian piutang hanya akan dicatat atau diakui apabila pelanggan menyatakan tidak bisa membayar (actual loss) atau dari kondisi pelanggan tersebut telah diamati dan dinyatakan tidak dapat membayar oleh perusahaan, bukan berdasarkan pada kerugian estimasi. Jadi, pada saat perusahaan mendapatkan informasi bahwa pelanggan tertentunya tidak dapat membayar maka pada saat itulah perusahaan akan langsung menghapus piutang usahanya di sebelah kredit tanpa melakukan estimasi terlebih dahulu dan membebankannya di sebelah debit sebagai beban kerugian piutang.

Sebagai contoh, Pada tanggal 19 Juli 2018, Perusahaan menghapus piutang usaha atas nama PT DDD karena bangkrut sebesar Rp 6.000.000. Jadi ayat jurnal yang perlu dibuat oleh perusahaan untuk mencatat besarnya beban kerugian piutang tak tertagih adalah sebagai berikut:

2018
Juli19Beban Kerugian PiutangRp 6.000.000
~ Piutang Usaha – PT DDDRp 6.000.000

Jika piutang yang telah dihapus oleh perusahaan tersebut ternyata dapat ditagih pada periode yang sama, maka piutang akan dicatat kembali dengan ayat jurnal yang membalik ayat jurnal penghapusan piutang, sedangkan kas yang diterima oleh perusahaan dalam pembayaran dicatat sebagai penerimaan atas pembayaran piutang yang telah dihapus.

Contohnya, Piutang PT DDD yang telah dihapus sebesar Rp 6.000.000 pada tanggal 19 Juli 2018 dinyatakan dapat ditagih dan diterima pembayarannya pada tanggal 25 November 2018. Maka ayat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah sebagai berikut:

2018
Nov25Piutang Usaha – PT DDDRp 6.000.000
~ Beban Kerugian PiutangRp 6.000.000
Kas di BankRp 6.000.000
~ Piutang Usaha – PT DDDRp 6.000.000

Apabila piutang yang telah dihapus tersebut ternyata dapat ditagih pada periode yang berbeda atau setelah perusahaan melakukan penutupan buku maka kas perusahaan akan bertambah sedangkan akun saldo laba (dalam perusahaan berbentuk PT) akan berkurang sejumlah nilai piutang yang dapat ditagih tersebut. Misalnya, Piutang PT DDD yang telah dihapus pada tanggal 19 Juli 2018 dinyatakan dapat ditagih kembali dan diterima pembayarannya pada tanggal 2 Maret 2019, maka jurnalnya adalah sebagai berikut:

2019
Maret2Piutang Usaha – PT DDDRp 6.000.000
~ Saldo LabaRp 6.000.000
Kas di BankRp 6.000.000
~ Piutang Usaha – PT DDDRp 6.000.000

Mengapa seperti itu? Karena pada periode 2018 tersebut, beban kerugian piutang telah mengurangi laba dalam laporan laba rugi sedangkan pada tahun 2019 pada saat piutang tersebut dilunasi, beban kerugian piutangnya tahun 2018 tidak boleh dibebankan sehingga jurnal yang dibuat oleh perusahaan adalah seperti di atas.

Metode Penyisihan/Cadangan (Allowance Method)

Metode Cadangan adalah metode penghapusan piutang dimana perusahaan harus mengestimasi taksiran jumlah piutang yang tidak dapat ditagih dan mencatat beban kerugian piutang berdasarkan estimasi tersebut pada setiap akhir periode akuntansi. Metode ini kebanyakan dipakai oleh perusahaan besar yang sudah dapat memperkirakan besarnya taksiran piutang yang tidak dapat ditagih secara akurat.

Satu hal yang dapat diprediksi adalah bahwa berdasarkan pengalaman pada masa lampau selalu ada pelanggannya yang tidak bisa membayar. Namun, mengenai siapa saja pelanggannya dan berapa jumlah piutang yang tidak dapat ditagih pastinya baru akan diketahui nanti secara pasti pada saat pelanggan tertentu menyatakan tidak dapat membayar. Dengan menggunakan metode ini, besarnya estimasi atas beban kerugian piutang akan dicatat pada periode yang sama sebagaimana penjualan kredit tersebut dicatat, tanpa harus menunggu terjadinya actual loss yang mungkin baru terjadi setelah periode penjualan berlangsung. Besarnya estimasi ini diperoleh dari hasil pengamatan dan pengalaman pada masa lampau mengenai jumlah piutang yang tidak dapat ditagih.

Kebanyakan perusahaan besar menggunakan metode cadangan untuk mengestimasi besarnya piutang yang tidak dapat ditagih lagi. Daripada perusahaan menentukan pelanggan mana yang tidak bisa membayar, perusahaan lebih baik mengurangi jumlah piutang nya ke dalam nilai bersih yang dapat direalisasi. Perusahaan akan menentukan besarnya estimasi piutang tak tertagih dalam akun yang bernama cadangan kerugian piutang (Allowance for doubtful debt).

Untuk tujuan pembukuan, metode cadangan ini diharuskan menurut prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku pada umum, karena metode cadangan sesuai dengan:

  • Prinsip Penandingan, dimana besarnya estimasi atau beban kerugian piutang dicatat dalam periode yang sama dengan pendapatan atau penjualan dicatat.
  • Prinsip Konservatisme, dimana besarnya piutang usaha yang dilaporkan dalam neraca adalah sebesar jumlah yang lebih realistis atau lebih rendah sehingga mencerminkan dengan lebih baik jumlah piutang yang sesungguhnya dapat ditagih.

Sebagai contoh, PT YYY mengestimasi dari pengalamannya sebesar 2% dari total penjualan kredit bersih tidak dapat ditagih lagi. Jika penjualan kredit bersih pada tahun 2019 sebesar Rp 200.000.000, maka ayat jurnal yang perlu dibuat oleh perusahaan untuk mencatat besarnya estimasi beban kerugian piutang pada akhir periode akuntansi adalah sebagai berikut:

2019
Des31Beban Kerugian PiutangRp 4.000.000
~ Cadangan Kerugian PiutangRp 4.000.000
(200.000.000 X 2%)

Nantinya jika perusahaan mendapati bahwa ada pelanggan tertentu yang tidak dapat membayar piutangnya, misalnya pada tanggal 25 Maret 2020 piutang atas nama pelanggan Pak Somad sebesar Rp 1.000.000 dihapuskan karena pelanggan tidak dapat dihubungi lagi, maka ayat jurnal yang diperlukan oleh perusahaan untuk mencatat penghapusan piutang atas pelanggan tersebut adalah sebagai berikut:

2020
Maret25Cadangan Kerugian PiutangRp 1.000.000
~ Piutang UsahaRp 1.000.000

Kadang kala setelah perusahaan menghapus piutang usahanya atas pelanggan tertentu, kemudian ternyata pelanggan tersebut beritikad baik dengan membayar sebagian dari piutangnya. Dalam hal ini, untuk mencatat perolehan kembali dari piutang yang telah dihapus tersebut.

Misalnya pada tanggal 1 April 2020 Pak Somad membayar kepada perusahaan sebagian dari piutangnya yang telah dihapus yaitu sebesar Rp 500.000, maka perusahaan harus membalik jurnal penghapusan piutang yang telah dibuat di atas sebesar jumlah piutang yang dapat ditagih kembali dari pelanggan tersebut saja dan lalu mencatat hasil penagihan tersebut dengan jurnal sebagai berikut:

2020
April1Piutang UsahaRp 500.000
~ Cadangan Kerugian PiutangRp 500.000
Kas di BankRp 500.000
~ Piutang UsahaRp 500.000
(Hanya sebesar yang dibayar kembali)

Atau

2020
April1Kas di BankRp 500.000
~ Cadangan Kerugian PiutangRp 500.000
(Hanya sebesar yang dibayar kembali)

Nahh… Itu dia pembahasan mengenai 2 Metode Penghapusan Piutang Usaha. Jika terdapat kesulitan dalam memahami materi yang dibahas, silahkan ajukan pertanyaan kalian dengan cara mengunjungi Facebook atau Instagram kami. Semoga Bermanfaat 🙂


Bagikan Artikel Ini

Penulis dan Developer Blog Seven Accounting

Tinggalkan Balasan