Pengertian Kas & Setara Kas dan Cara Pengendaliannya

Kas & Setara Kas
Bagikan Artikel Ini

Apa sih kas itu?? Lalu setara kas itu apa?? Cara mengendalikannya juga bagaimana biar gak ada yang menggelapkannya?? Berikut Penjelasannya…

Nahh… Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas mengenai Akun & Jurnal Perusahaan Dagang Lengkap. Untuk artikel kali ini, kita akan membahas mengenai Pengertian Kas dan Setara Kas Serta Bagaimana Cara Pengendaliannya. 🙂

Untuk penjelasan lengkapnya, langsung saja kalian baca dibawah ini 🙂

Pengertian Kas (Cash)

Pengertian Kas

Kas adalah aset yang paling likuid. Kas merupakan media pertukaran standar dan dasar pengukuran serta akuntansi untuk semua item-item lainnya. Perusahaan umumnya mengklasifikasikan kas  sebagai aset lancar. Dalam neraca, kas selalu diasjikan pada urutan pertama, setelah itu diikuti dengan akun piutang usaha, dan seterusnya sesuai dengan urutan tingkat likuiditasnya.

Kas terdiri dari uang kertas, uang logam, dan dana yang tersedia di bank yang dapat diambil sewaktu-waktu. Instrumen yang dapat dinegosiasikan seperti wesel pos (money order), cek bersertifikat (certified check), cek pribadi, cek kasir (cashier check), dan wesel bank (bank draft) juga dipandang sebagai kas. Perangko bukan merupakan kas melainkan biaya yang dibayar dimuka (prepaid expense). Pada umumnya, perusahaan membagi kas menjadi dua kelompok, yaitu uang yang tersedia di kasir perusahaan (cash on hand), dan uang yang disimpan di bank (cash in bank).

Sisa uang jas perusahaan yang tidak tersimpan di bank yang pada umumnya tersedia di kasir perusahaan digunakan untuk memenuhi pembayaran yang jumlahnya relatif kecil (sebagai dana kas kecil/petty cash fund) dan juga digunakan untuk memenuhi keperluan pembayaran khusus. Oleh karena itu, perusahaan lebih sering menyebut kas yang tersedia di perusahaan (cash on hand) sebagai dana kas kecil (petty cash fund) karena pada umumnya memiliki fungsi sama dengan dana kas kecil.

Pengertian Setara Kas (Cash Equivalent)

Setara Kas

Biasanya perusahaan menyebutkan kas sebagai kas dan setara kas. Setara kas merupakan investasi jangka pendek dan sangat likuid yang mudah untuk dikonversikan sebagai kas, dan sangat dekat tanggal jatuh temponya sehingga tidak ada risiko signifikan dari perubahan suku bunga. Umumnya hanya investasi dengan jangka waktu kurang dari 3 bulan saja yang memenuhi syarat sebagai setara kas.

Contoh setara kas diantaranya Surat Perbendaharaan Negara (SPN), surat berharga (commercial paper), dan dana pasar uang. Beberapa perusahaan sering menggabungkan kas dengan investasi sementara pada laporan posisi keuangan atau neraca. Dalam kasus seperti ini, perusahaan akan menjelaskan jumlah investasi melalui angka dalam kurung yang dimuat dalam catatan atas laporan keuangan.

Item-item yang Termasuk Kas

Kas dan setara kas mencakup media pertukaran sebagian besar instrument yang dapat dinegosiasikan. Tetapi, jika item ini tidak dapat dikonversikan ke uang logam atau uang kertas dengan cepat, maka perusahaan harus mengklasifikasikannya secara terpisah sebagai investasi, piutang, biaya dibayar dimuka, atau aset lancar lainnya.

Klasifikasi Kas, Setara Kas, dan Item Nonkas

ItemKlasifikasiKeterangan
KasKasJika tidak dibatasi dilaporkan sebagai kas, tapi jika dibatasi dilaporkan pada aset lancar atau tidak lancar
Kas Kecil dan Dana PerubahanKasDilaporkan sebagai kas
Surat Berharga Jangka PendekSetara KasInvestasi dengan jatuh tempo kurang dari 3 bulan, sering digabung dengan kas
Surat Berharga Jangka PendekInvestasi Jangka PendekInvestasi dengan jatuh tempo 3 sampai 12 bulan
Cek MundurPiutangDiasumsikan dapat ditagih
Uang Muka PerjalananPiutangDiasumsikan ditagih dari karyawan atau dikurangkan dari gaji mereka
PerangkoBiaya dibayar dimukaAtau bisa juga diklasifikasikan sebagai perlengkapan kantor
Cerukan BankKasJika saling hapus tidak memungkinkan akan diklasifikasikan sebagai liabilitas jangka pendek

Manajemen dan Pengendalian Kas

Pengendalian Kas

Kas merupakan aset yang paling mudah untuk dipindahtangankan dan sulit untuk dibuktikan kepemilikannya, sehingga mudah untuk digelapkan, dicuri, dimanipulasi, dan diselewengkan. Pengendalian kas mencakup fungsi-fungsi penyimpanan, pencatatan, dan operasionalnya. Untuk melindungi kas dan menjamin keakuratan catatan akuntansi, perusahaan perlu menetapkan prosedur atas penerimaan dan pengeluaran kas.

1 – Pengendalian atas Penerimaan Kas

Sebagian besar penerimaan kas perusahaan tentu saja berasal dari hasil kegiatan operasional bisnisnya, yaitu melalui penjualan tunai (baik untuk perusahaan dagang maupun perusahaan jasa), ataupun sebagai hasil penagihan piutang usaha dari pelanggan (dalam hal penjualan secara kredit). Sedangkan penerimaan kas lainnya timbul dari kegiatan non-operasional perusahaan.

Mengingat kas merupakan aset yang paling lancar, maka untuk mengamankan penerimaan kas ini diperlukan sistem pengendalian yang sangat baik dan ekstra hati-hati. Berikut ini adalah beberapa penerapan prinsip pengendalian atas penerimaan kas :

  • Hanya karyawan tertentu saja yang secara khusus ditugaskan untuk penerimaan kas.
  • Adanya pemisahan tugas (segregation of duties) antara individu yang menerima kas, mencatat/membukukan penerimaan kas, dan yang menyimpan kas.
  • Setiap transaksi penerimaan kas harus didukung dengan dokumen (sebagai bukti transaksi, seperti slip pembayaran atau pengiriman uang / remittance advices (dalam kasus penerimaan uang lewat pos / mail receipts), struk / cash register records (dalam kasus penerimaan uang lewat konter penjualan / counter receipts), dan salinan bukti setor uang tunai ke bank (deposit slips).
  • Uang kas hasil penerimaan penjualan harian atau hasil penagihan piutang dari pelanggan harus langsung disetor ke bank setiap hari oleh departemen kasir.
  • Dilakukannya pengecekan independen atau verifikasi internal dengan jangka waktu yang tidak tentu.
  • Mengikat karyawan yang menangani penerimaan kas dengan uang pertanggungan.

2 – Pengendalian atas Pengeluaran Kas

Kas mungkin akan dikeluarkan untuk berbagai tujuan (alasan), seperti misalnya untuk membayar beban-beban tertentu (baik sebagai pengeluaran operasional maupun non-operasional), untuk membayar utang kepada pemasok, banker, atau pihak kreditur lainnya, serta bisa juga kas dikeluarkan untuk membeli aset.

Untuk menghindari adanya penggelapan uang dari pengeluaran kas diperlukan sistes pengendalian yang sangat baik oleh perusahaan. Berikut ini adalah beberapa penerapan prinsip pengendalian atas pengeluaran kas dengan menggunakan cek :

  • Hanya penjabar tertentu saja yang secara khusus memiliki otorisasi untuk menandatangani cek (biasanya hanya manajer keuangan).
  • Adanya pemisahan tugas (segregation of duties) antara individu yang menyetujui pembayaran kas, melakukan pembayaran kas, dan yang mencatat atau membukukan pengeluaran kas.
  • Menggunakan cek yang telah bernomor urut tercetak
  • Setiap cek harus dilampiri dengan bukti tagihan.
  • Menyimpan blanko cek yang belum terpakai (yang telah bernomor urut tercetak tadi) dalam safe deposit box, dan hanya satu orang tertentu saja yang ditunjuk atau memiliki kode akses untuk membukanya.
  • Mencetak jumlah (nilai) cek yang akan dibayarkan dan tujuan serta si penerima pembayaran dengan menggunakan mesin cetak.
  • Melakukan pengecekan independen atau verifikasi internal dengan jangka waktu yang tidak tentu.
  • Faktur tagihan (invoices) yang telah dibayar lunas harus segera diberi stempel “Lunas” (“Paid”).

Penggunaan Rekening Bank

Penggunaan Rekening Bank

Terdapat 5 hal yang harus dipahami dalam penggunaan rekening giro bank, yaitu sebagai berikut:

1 – Membuka Rekening Giro

Untuk membuka rekening giro di bank, pemohon (perorangan atau perusahaan) harus mengisi formulir pembukaan giro yang telah disediakan bank. Apabila pemohon adalah sebuah perusahaan, maka perusahaan harus menunjuk orang yang diberi kuasa untuk mengambil uang dari bank. Orang ini juga yang akan diberi kuasa untuk menandatangani cek yang ditarik dari rekening giro tersebut. Orang tersebut harus mencantumkan tandatangannya dalam kartu tanda tangan yang telah disediakan oleh bank. Contoh tandatangan dalam kartu inilah yang akan menjadi acuan bank dalam memeriksa keabsahan cek yang ditarik oleh perusahaan. Biasanya perusahaan menunjuk bendahara atau kepala bagian keuangan untuk menandatangani cek tersebut.

2 – Penyetoran ke Bank

Seluruh penerimaan kas harian yang dilakukan oleh perusahaan harus disetorkan secara utuh ke bank dengan disertai slip setoran bank yang telah disediakan oleh bank. Slip setoran yang asli setelah dicap oleh bank diberikan kepada nasabah untuk dibukukan oleh perusahaan, sedangkan lembar yang berupa copy akan digunakan untuk pembukuan oleh bank. Setoran ke bank ini dapat berupa uang tunai maupun cek yang diterima dari pelanggan perusahaan. Cek dari pelanggan tersebut akan dikliring oleh bank dan hasil pencairan cek tersebut akan dimasukkan dalam rekening giro perusahaan dengan mengkredit rekening giro perusahaan.

3 – Pembayaran dengan Menarik Cek

Pengambilan dari giro perusahaan dilakukan dengan menarik cek yang blankonya telah disediakan oleh bank. Cek merupakan perintah tertulis dari pemegang giro kepada banknya untuk membayar sejumlah uang yang tertulis dalam cek tersebut yang dananya diambil dari saldo giro penarik cek kepada orang yang membawa cek tersebut.

Cek harusnya bernomor urut tercetak (prenumbered) dan ditandatangani oleh orang yang mendapat kewenangan untuk menandatangani cek tersebut. Cek bisa ditarik oleh perusahaan untuk keperluan interen perusahaan. Apabila cek diuangkan di bank, maka bank akan membayarkan sejumlah uang sesuai dengan yang tertulis dalam cek tersebut, setelah bank meneliti keabsahannya. Bank akan menolak membayar cek, apabila saldo dalam rekening giro perusahaan penarik cek lebih kecil dari jumlah nominal cek yang harus dibayar. Cek semacam ini disebut dengan cek kosong. Penarikan cek kosong secara sengaja merupakan tindak pidana yang harus dihindari oleh setiap pemegang giro.

Ada tiga pihak yang terlibat dalam proses penerbitan sampai pencairan cek, yaitu pembuat atau penarik cek, bank, dan penerima cek. Pembuat atau penarik cek adalah orang yang menandatangani atau menerbitkan cek dan meminta bank untuk melakukan pembayaran. Bank adalah pihak dimana cek tersebut ditarik atau sebagai perantara dalam pembayaran tersebut. Sedangkan penerima cek adalah pihak dimana cek tersebut terutang atau pihak dimana pembayaran tersebut ditujukan.

4 – Beban administrasi bank dan bunga

Bank membebani pemegang giro sejumlah biaya untuk pengelolaan giro yang disebut beban administrasi bank yang besarnya tergantung kepada aktivitas rekening giro yang bersangkutan. Di sisi lain, bank juga memberikan bunga (pendapatan jasa giro) kepada pemegang giro yang besarnya tergantung kepada saldo rata-rata giro yang bersangkutan. Perhitungan beban administrasi dan jasa giro dilakukan bank setiap akhir bulan.

Pembebanan biaya administrasi bank ini akan mengurangi saldo giro, dan untuk itu bank akan mendebit rekening giro nasabah. Bank menuangkan jumlah beban administrasi dalam dokumen yang disebut memo debit yaitu pemberitahuan bank kepada nasabah bahwa rekening giro nasabah telah didebit bank untuk biaya administrasi sejumlah yang tertulis dalam memo tersebut.

Pemberian bunga keapda nasabah akan menambah saldo giro nasabah pada bank yang bersangkutan. Untuk itu bank akan mengkredit rekening giro nasabah. Jumlah bunga yang dituangkan bank dalam dokumen yang disebut memo kredit, yaitu pemberitahuan dari bank kepada nasabah bahwa rekening giro nasabah teleh dikredit untuk pemberian bunga sejumlah yang tertulis dalam memo tersebut.

5 – Laporan Bank

Setiap akhir bulan, bank wajib menyampaikan laporan bulanan tentang perubahan saldo giro yang disebut dengan laporan bank. Laporan tersebut berisi informasi tentang saldo awal bulan, setoran dan penambahan lainnya, penarikan cek dan pengurangan lainnya, dan saldo akhir bulan. Informasi ini berguna untuk pemegang giro karena dapat digunakan untuk dicocokkan dengan catatan giro yang diselenggarakan oleh perusahaan. Dengan demikian, perusahaan memiliki data pembanding yang independen, sehingga ketelitian dalam pencatatan data menjadi lebih terjamin. Dari segi pengendalian interen, adanya data pembanding ini akan membuat data menjadi lebih dapat dipercaya.

Nahh… Itu dia artikel dari kita mengenai Kas dan Setara Kas. Bila ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut silahkan klik link berikut ini Tanya Jawab atau bisa langsung ditanyakan dengan mengunjungi Facebook atau Instagram kami jika mungkin ada yang belum dipahami mengenai materi yang kami sampaikan. Semoga Bermanfaat 🙂


Bagikan Artikel Ini

Penulis dan Developer Blog Seven Accounting

Tinggalkan Balasan